Pages


Tuesday, May 10, 2011

ROMEO & JULIET Versiku

Alkisah di negeri seberang, dua remaja yang baru menginjak dewasa telah sama-sama mempunyai rasa cinta yang tentu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seorang gadis jelita bernama Juliet dengan seorang pemuda bernama Romeo. 

“ Wahai Romeo kau tahu kita telah menjalani hari-hari ini bersama-sama dalam indahnya cinta maupun dalam kedukaannya. Tapi dalam seiring perjalanan ini kisah yang telah kita lakoni bersama-sama ini tidaklah mendapat restu dari kedua orang tua kita. Mereka tidak tahu apa arti cinta yang kita rasakan. Mereka hanya ingin mementingkan kehendaknya sendiri. Mereka pikir dengan aturan yang mereka buat dan dengan segala harta yang telah diberikannya, kita akan menikmati kebahagiaan. Tentu tidak, bukan. Mereka tidak berhak untuk mengatur kita. Kita sudah dewasa dan sudah mampu memilih jalan yang terbaik bagi kita bukan sesuai dengan kehendak mereka, “ celetuk Juliet ketike mereka berdua duduk-duduk di bawah sebuah pohon rindang di seberang jalan raya. 

“Kau benar Juliet. Semua yang telah mereka berikan buat kita bukan berarti mereka berhak untuk menentukan jalan hidup kita. Kita adalah laksana anak panah dan orang tua kita adalah busurnya. Jika sudah saatnya kita akan melesat jauh menuju suatu sasaran yang diinginkan. Kita hanya hadir dari mereka tapi kita bukanlah milik mereka. Jadi memang kita harus menentukan jalan terbaik yang harus kita pilih, bukan jalan terbaik menurut mereka. Bagaimana menurut kamu, Juliet!” jawab Romeo sembari mengelus rambut Juliet mencoba mencurahkan rasa sayang dan cintanya pada sang kekasih. 

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Hanya semilir angin yang dapat terdengar beserta deru laju kendaraan yang kadang terdengar kadang tidak. Pohon di atas mereka tampak kokoh berdiri. Dengan keanggunan daunnya pohon itu telah memberi keasrian tersendiri bagi kedua insan yang sedang memadu kasih itu. Angin sepoi-sepoi telah membawa mereka terlelap dalam buaian asmara yang tiada tara. Sebuah perasaan yang hanya dimengerti oleh keduanya. 

“Matahari telah siap untuk menyimpan muka keagungannya. Tidak baik jika kita di sini terus-menerus. Nanti orang tua kita akan curiga. Sebaiknya kita pulang sekarang,” kata Juliet dengan muka agak pucat melihat hari mulai petang. “Tidak ada yang dapat menghalangi kita berdua. Ingat kata-kata itu Juliet. Cintaku tak akan kandas oleh siapapun juga. Tuhan telah mengecupkan kita dengan bibir-bibir cinta. Tentu Tuhan juga akan memberikan jalan terbaik buat kita, tegas Romeo dengan sorot mata penuh kasih melihat Juliet. 

Tak lama kemudian Romeo bangkit dari duduknya. Dia dengan segera menggandeng tangan Juliet. Dengan tawa riang mereka bergegas pergi dari tempat itu. Wahai pembaca yang budiman, cerita mengapa kedua orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka adalah karena kedua orang tua mereka mempunyai dendam lama. Mereka terjerat dalam suatu dendam perekonomian perusahaan. Orang tua Juliet adalah pemilik perusahaan ternama di negeri itu. Begitu pula orang tua Romeo adalah juga pemilik perusahaan lain yang tak kalah besarnya dengan perusahaan yang dimiliki oleh orang tua Juliet. Kedua perusahaan itu bersaing terus untuk mengembangkan perekonomian perusahaannya. Dendam orang tua mereka tidak bisa diberi jalan tengah. Karena itulah mereka jelas tidak merestui hubungan kedua anaknya. Walaupun demikian kedua anaknya tetap menjalin hubungan secara diam-diam alias back street. Setiap pulang dari kuliah Romeo menyempatkan diri tuk menjemput Juliet di kampusnya. Jadi hampir tiap hari mereka bertemu melepas rindu. Tiap hari mereka berkeluh-kesah tentang masalah yang mereka hadapi di rumah. 

“Romeo, aku sudah tidak tahan dengan hubungan kita yang terus sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku tidak tahan kita seperti terbatas ruang geraknya. Seperti dua ekor burung dalam masing-masing sangkar.”keluh Juliet. “Terus menurutmu kita harus bagaimana. Apakah kita sudahi saja hubungan cinta kita sampai di sini. Tentu tidak bukan. Tidak akan ada yang dapat mengalahkan kekuatan cinta. Apalagi hanya sebuah tonggak kecil seperti ini.”jawab Romeo dengan penuh ketegasan. “Kau bilang masalah ini hanya sebuah tonggak kecil. Bagiku tidak. Ini sebuah tembok tinggi yang menghimpit kedua tubuhku. Aku bahkan sampai sesak tidak bernafas. Setiap hari aku hanya diperbolehkan untuk kuliah saja. Aku mencari alasan dengan mengatakan kalau aku ikut aktif kegiatan di kampus sehingga aku pulangnya sampai sore terus dan waktu yang kubohongi itu kupergunakan untuk bertemu dengan kamu berbagi rasa suka,cinta, sedih, susah, dan bahagia. Kau seorang laki-laki, walaupun kedua orang tuamu juga tidak merestui hubungan kita tapi kau sedikit memiliki ruang gerak yang bebas dibandingkan dengan aku. Aku tidak tahan terus-terusan berbohong seperti ini. Tentu yang di Atas akan murka tentang hal ini, dan pasti nantinya akan ketahuan juga kebohongan ini. Kebusukan tidak akan selamanya dapat tertutupi, suatu saat ketahuan juga baunya,“ sanggah Juliet menanggapi apa yang diucapkan Romeo. 

“Ya aku mengerti persoalannya. Terus kau punya usul nggak tentang pandangan ke depan yang harus kita jalani untuk melewati batu karang ini,” jawab Romeo mencoba menenangkan suasana dan mencoba untuk mengerti apa yang telah Juliet utarakan. “Untuk saat ini belum. Tapi aku mencoba menanyakan kepadamu sejauh mana cinta yang ada dalam dirimu kepadaku duhai kekasihku. Aku takut jika rasa cinta yang aku miliki tidak sebanding dengan rasa cinta yang kau miliki. Aku takut rasa cinta yang kau miliki akan hapus seperti sebuah parfum yang tidak bertahan lama akan hilang wanginya,” tanya Juliet dengan rona muka menyimpan tanda tanya tersendiri. 

“Duhai kasihku. Duhai aphroditku. Aku telah mencintaimu dengan cinta yang belum pernah di anugerahkan seorang manusia pun di muka bumi ini pada kekasihnya. Aku setia padamu dengan kesetiaan yang tidak dimiliki oleh seorang saudara kepada saudaranya, dan seorang ayah pada anaknya. Aku menjunjungmu seperti seorang pemuja menjunjung dewanya. Aku belum pernah mengkhianatimu secara tersembunyi ataupun terang-terangan. Aku belum pernah mendustaimu dalam ucapan ataupun perbuatan. Aku telah memenuhi seluruh kehampaan hidupku denganmu. Aku tak melayangkan pandanganku kecuali untuk melihat wajahmu. Aku tak memiliki perasaan kecuali untuk mencintaimu. Aku tidak pernah bermimpi kecuali memimpikan bayanganmu. Aku tak suka melihat matahari di waktu terbitnya, melainkan karena aku melihat bayanganmu dalam sinarnya. Aku tidak sudi mendengar nyanyian burung pada dahan, kecuali karena aku mendengar suaramu dalam nyanyiannya. Aku tidak ingin memandang bunga-bunga yang sedang mekar dalam kelopaknya, melainkan karena bunga-bunga itu menyerupai warna kecantikanmu. Aku tak mengharapkan kebahagiaan dalam kehidupan ini melainkan untuk kebahagiaanmu. Dan aku tidak ingin hidup di dunia ini melainkan untuk berada di sampingmu, dan bergembira karena melihat kegembiraanmu. Itulah luapan isi hatiku kepadamu wahai sang dewiku. Untuk itulah aku berharap juga kau jangan pernah mengecewakan rasa cinta yang aku miliki ini,” jawab Romeo dengan tatap mata ke arah Juliet mencoba menghilangkan rasa ragu yang ditanyakan Juliet. “Terima kasih sayangku. Begitu pun rasa cintaku padamu juga demikian adanya seperti yang kamu utarakan. Cinta kita akan bertahan selamanya. Tak lekang oleh waktu dan bergulirnya sejarah, “ ucap Juliet sembari meneteskan air mata kebahagiaan. Dan tanpa sadar dia memeluk erat Romeo dan keduanya berpelukan erat . “ Jangan pernah kau tinggalkan aku Juliet. “ “ Tak kan pernah Romeo.” 

Keduanya larut dalam indahnya cinta. Cinta anugerah sang Maha Pencipta. Suatu untaian kata-kata bercahaya di tulis oleh tangan bercahaya dalam suatu lembar bercahaya. Tak ternilai indahnya begitupun juga pahitnya. 

“Tidak…..tidak Romeo. Aku ingin bebas dari kurungan tembok besar itu. Bawalah aku bersamamu Romeo. Bawalah aku kekasihku. Kita akan menikmati keindahan cinta dengan sempurna, bukan hanya cinta yang terbatas seperti ini. Aku ingin selama-lamanya bersamamu kekasihku, tak akan ada yang akan menghalangi kita. Tidak pun sang Maha Pencipta. “ ucap Juliet lirih di telinga Romeo. 

Cinta telah membawa mereka ke luar batas pemikiran. Mengalahkan segala-galanya. Cinta juga telah membutakan mereka hingga lupa oleh Penciptanya sendiri. 

“Ya aku tahu maksud kamu cintaku. Kamu ingin kita bebas dari segala yang mengikat kita bukan. Tentu sang kematianlah jawabnya. Kematian akan membawa kita bersama-sama meninggalkan dunia fana beserta ikatan-ikatan yang telah membatasi ruang gerak langkah kita, telah mengekang kita dengan aturan-aturan yang belum tentu baik dan menurut mereka adalah baik. Kamu takut Juliet dengan kematian. Jika kamu takut berarti cintamu hanya sepenggalah tongkat, sejengkal tanah!” ucap Romeo dengan nada agak keras di kalimat terakhir yang dia ucapkan. Begitulah kekuatan cinta. Cinta dua insan manusia. “Tentu tidak sayangku. Kematian tidak akan memisahkan cinta kita. Kita tetap akan bersatu selama-lamanya walau tidak di dunia ini,”ucap juliet mengiyakan apa yang diucapkan Romeo. 

Kekuatan cinta telah membawa mereka melawan takdir sang Pencipta. Mereka telah melewati jalan pintas dengan menempuh kematian bersama-sama sebelum waktunya. Mereka menceburkan dirinya ke sungai dari sebuah jembatan yang tingginya kira-kira 15 m dari tanah. Dan mereka berhasil menempuh jalan itu yaitu kematian telah merenggut nyawa mereka. Paginya keduanya ditemukan mengambang di sungai tersebut 1 km dari jembatan tempat mereka bunuh diri bersama-sama. Kedua orang tua mereka merasa terhentak dengan kabar itu dan kabar itu menjadi kabar besar dan telah membuka mata dunia bahwa demikian dahsyatnya kekuatan cinta. Sebuah panggung kehidupan fana keduniawian. Suatu pantomim antara dua insan manusia yang telah terbatasi oleh irama kedua orang tua menjadikan suatu kasih yang tak terhingga membawa mereka melepaskan diri dari panggung itu menuju titian yang mereka harapkan kebahagiannya. Mari kita renungkan bersama-sama mengenai kisah ini dan kita ambil hikmahnya bersama-sama.

Terinspirasi dari buku Kahlil Gibran

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi blog saya. Silakan tinggalkan pesan di sini.